antareja

Sejarah Kesaktian Antareja Melawan Gatot Kaca

Sejarah Antareja – Antareja yang disebut juga Wasianantareja atau Raden Anantareja merupakan salah satu tokoh pewayangan yang tidak ada dalam kitab Mahabharata.

Sama seperti tokoh Semar, tokoh wayang ini hanyalah hasil  ciptaan para dalang dan pujangga Jawa di tanah air. Sehingga inilah yang menjadi ciri wayang asli Indonesia.

Jika ditanya siapa Antareja? Jawabannya sangat mudah. Beliau adalah putra pertama Bima yang bagian dari tokoh Pandawa Lima, dari hasil pernikahannya dengan Dewi Nagagini. Adapun Dewi Nagagini seorang putri dari Hyang Antaboga atau dewa ular dan Dewi Supreti.

Pernikahan Bima dan Dewi Nagagini berlangsung pasca kebakaran yang terjadi di Balai Siga-Gala yang direkayasa oleh pihak Kurawa untuk melenyapkan nyawa para pandawa.

Setelah menikah dengan Bima, Dewi Nagagini mengandung.  Namun karena suatu keperluan tertentu, dengan terpaksa Bima meninggalkan Dewi Nagagini yang sedang mengandung dan menuju kerajaan Amarta.

Setelah kepergian Bima, Dewi Nagagini melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Antareja. Sejak itulah, Antareja dididik dan dibesarkan oleh ibunda tercinta, Dewi Nagagini hingga usia dewasa.

Pada masa remaja, Antareja selalu menanyakan kehadiran ayah kandung tercintanya. Sama seperti anak remaja lainnya yang masih membutuhkan belaian kasih sayang kedua orangtua tercinta.

Namun Dewi Nagagini selalu memberitahukan bahwa ayahandanya sedang pergi ke kerajaan Amarta. Ketika usia dewasa, Antareja memutuskan untuk pergi seorang diri mencari ayahandanya, Bima.

Kesaktian Antareja

antareja

Dewi Nagagini tidak bisa menahan kemauan kuat anak tercintanya. Dengan terpaksa ia merelakan kepergian Antareja. Namun sebelum pergi mencari ayah kandungnya, Antareja diberikan tiga benda pusaka oleh Dewi Nagagini, antara lain :

1. Napakawaca yang mampu membuat kulit badannya mempunyai kekebalan terhadap segala jenis senjata tajam dan pusaka serta mampu berjalan di dalam bumi

2. Cincin Mustikabumi yang memiliki kekuatan luarbiasa. Dimana dengan ajian ini Antareja bisa menjauhkan diri dari kematian asalkan anggota badannya menyentuh bumi

3. Aji Upasanta yang mempunyai kesaktian dalam lidahnya. Setiap makhluk yang bekas telapak kakinya dijilat oleh Antareja pastinya saat itu juga akan mengalami kematian.

Sifat Antareja

Antareja memiliki beberapa sifat baik yang diwariskan dari ayah dan ibunya.

Seperti sikap rela berkorban, menyayangi kepada orang yang lebih muda, menghormati orang yang lebih tua, berbakti kepada orang tua, pendiam, jujur. Digambarkan ia  berwujud manusia dengan kulitnya yang bersisik seperti ular.

Antareja vs Gatotkaca

antareja

Pada saat Antareja menuju kerajaan Amarta untuk mencari ayahanda tercinta, di tengah perjalanan tiba-tiba ia dikagetkan dengan penemuan sebuah mayat manusia berjenis kelamin perempuan. Mayat tersebut berada di atas perahu.

Ia pun mencoba menolong wanita itu dan menghidupkan perempuan itu memakai ajian Napakawaca. Melihat peristiwa tersebut, Gatotkaca yang dari tadi menjaga mayat wanita tersebut dari kejauhan menganggap Antareja yang membunuh bibinya itu.

Tanpa ampun, tiba-tiba Antareja mendapatkan serangan luarbiasa dari Gatotkaca yang amarah murka. Antareja tak tinggal diam, dengan ilmu kekebalan tubuh ia melakukan perlawanan. Hingga pertempuran dua orang yang mempunyai kesaktian tingkat tinggi pun terjadi yang membuat bumi bergoncang hebat.

Dua kekuatan yang sebanding beradu. Tak ada seorang pun yang dapat menghentikan pertengkaran antara keduanya yang hebat.

Setelah wanita itu atau Subadra, sang istri Arjuna hidup kembali berkat ajian Napakawacanya Antareja maka ia meleraikan pertengkaran antara Antareja dan Gatot Kaca yang merupakan keponakannya. Ia menjelaskan pada Gatotkaca bahwa Antareja bukan pembunuhnya tapi ia hendak menolongnya.

Kemudian Gatotkaca meminta maaf pada Antareja. Kemudian Subadra mengenalkan Antareja pada Gatotkaca dan sebaliknya. Mengetahui mereka berdua bersaudara maka Gatotkaca dan Antareja pun bahagia bisa dipertemukan.

Lalu mereka bersalaman dan berdamai selamanya. Kemudian Gatotkaca dan Antareja bersepakat mencari bersama-sama pelaku yang telah membunuh Subadra hingga mereka menemukan pelakunya yang tak lain adalah Burisrawa.

Cerita Wayang Antareja Gugur

Kalau disamakan dengan kekuatan angkatan bersenjata di tanah air maka Antareja disebut juga dengan Kopassus atau Komando Pasukan Khusus setingkat SEAL tentara  khusus Amerika Serikat.

Kekuatannya menyamai seribu pasukan tentara bersenjata. Cerita kematian Antareja sangat dramatis. Berikut ini penjelasan lengkap cerita wayang mengenai tragedi kematian Antareja.

Pada suatu hari Raja Kresna hendak mengetahui isi kitab Jitabsara yang merupakan skenario hasil tulisan Batara Panyarikan dipandu Batara Narada dan Batara Guru mengenai apa yang akan terjadi pada perang Baratayudha.

Mengingat Kresna melihat bahwasanya pertempuran hebat antara pihak Pandawa melawan pihak Kurawa tidak terelakkan lagi dan sebentar lagi akan terjadi.

Untuk mengetahui isi kitab Jitabsara secara keseluruhan maka Kresna merubah wujud menjadi lebah putih. Kresna pun melihat isi kitab Jitabsara bahwasanya kakak kandungnya.

Baladewa yang berada di pihak Kurawa akan dikalahkan oleh Antareja dalam perang Baratayudha. Tiba-tiba secara tak sengaja, Kresna yang mewujud diri sebagai lebah putih menyenggol tinta yang ditulis Batara Panyarikan hingga terjatuh.

Keresahan Kresna

Kresna galau. Di dalam kitab Jitabsara ditentukan pada saat terjadinya perang Baratayudha ia berada di pihak Pandawa sebagai penasihat militer. Namun ia harus berhadapan dengan kakak kandungnya sendiri yang memilih berpihak pada Kurawa.

Kresna tidak mau kakak kandungnya sendiri mati di tangan pihak Pandawa, Antareja sedangkan ia berada dalam pihak Kurawa. Kresna tidak ingin sejarah kelabu tersebut terjadi. Dimana kakaknya mati di dalam kejahatan.

Tiba-tiba kamuflase yang dilakukan oleh Kresna terlihat oleh Batara Guru.  Kresna meminta maaf dan melakukan negosiasi tingkat tinggi hingga Kitab Jitabsara dimiliki secara penuh oleh Kresna. Namun sebelumnya, Batara Guru meminta isi-isi kitab Jitabsara dirahasiakan pada setiap orang untuk menjamin keamanan semuanya.

Dengan kitab Jitabsara yang sudah berada di tangannya, Kresna merasakan kemenangan berada di pihaknya. Kresna mau mengubah takdir dan mau mengakhiri perang Baratayuda dengan sangat apik.

Dimana ia berencana menyelamatkan martabat Baladewa, sang kakak kandung dari sejarah kelam perang Baratayudha. Ia tidak ingin Baladewa yang berada di pihak Kurawa mati oleh Antareja, pihak pandawa. Kemudian Kresna menyusun rencana tepat untuk menghindari terjadinya pertarungan antara Antareja dan Baladewa.

Pertempuran Baratayuda

Menjelang pertempuran Baratayuda, Kresna meminta sang kakak tercinta, Baladewa untuk bertapa di wilayah Grojogan Sewu. Langkah tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya agar kakaknya tidak terlibat dalam perang Baratayuda.

Kresna meminta anak tercintanya bernama Raden Samba untuk mengawasi Baladewa. Sedangkan Kresna merasa Antareja mesti di”amankan” terlebih dulu.

Pada waktu perang Baratayuda akan berakhir, pihak Pandawa dan Kurawa melakukan tawur atau sebuah pengurbanan kepada dewa untuk meminta pertolongan dalam kemenangan peperangan. Tak ayal, dengan otak cerdasnya Kresna memberikan usul kepada pihak Pandawa agar Antareja dijadikan tumbal atau kurban.

Setelah diminta persetujuannya, Antareja sebagai anak yang berbakti dan rela berkurban pun bersedia menjadi kurban bagi dewa. Dengan harapan peperangan Baratayuda dapat dimenangkan pihak pandawa dan ia lekas menduduki surga lapis sembilan yang dijanjikan Kresna.

Kemudian Antareja yang sakti mandraguna disuruh oleh Kresna untuk menjilat bekas tapak kakinya sendiri sehingga Antareja pun mati akibat ilmu kesaktiannya sendiri. Dimana tubuhnya teracuni oleh air liur sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *